Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Penggambaran watak tokoh dalam cerpen.
Mencoba Belajar menggambarkan Watak tokoh dalam sebuah cerpen
*Budak Melayoe
haha.. lagi-lagi masih belajar :)
Hari ini tanggal 7 Maret, hari pertama
ia masuk sekolah baru. Khumairah mengenakan kerudung nya bersiap-siap hendak
menuntut ilmu. Gadis muslimah ini baru saja pindah dari Pondok Pesantren Dar El
Hikmah,Pekanbaru, tempat nya bersekolah dulu. Namun siapa duga, Khumairah
justru pindah ke sekolah negri SMA Negri 01 Koto Gasib, Siak. Atsmospher yang
justru berbanding terbalik dengan sekolah nya dulu. Ini bukan kehendaknya,
melainkan kehendak sang ayah yang inginkan khumairah menjadi seorang dokter.
Khumairah malah lebih senang dengan suasana pondok pesantren nya dulu, tenang,
damai, penuh dengan nuansa religious dibandingkan dengan kelasnya yang sekarang,
sesak, bising, perempuan dan laki-laki yang bercampur dalam satu ruangan, serta
beberapa yang tidak berhijab. Membayangkan nya saja Khumairah sedih.
Setelah melakukan beberapa persiapan,
mengenakan kaus kaki dan manset tangan nya, Khumairah tak lupa salim kepada
Ayah dan Ibu nya. Dengan menggunakan sepeda ia pun berangkat dengan niat
menuntut ilmu. Sambil mengayuh sepeda gadis bertubuh pendek dan kecil ini
melantunkan ayat-ayat indah, kalam Allah, beberapa penggalan ayat Al-Quran yang
ia hafal di sekolah nya dulu. Bibir mungilnya begitu fasih mengucapkan
kalimat-kalimat indah itu. Dengan hati-hati ia memarkirkan sepeda nya di
samping beberapa sepeda anak-anak lainnya. Tak lupa ia ucapkan Basmalah sebelum
meninggalkan sepedanya. Itu pun sudah menjadi kebiasaan gadis berkulit terang
ini sejak masuk ke pesantren.
Sesampai di kelas barunya, Ia langsung
disambut dengan senyuman dari
kawan-kawan baru nya ini. “Asslamualaikum, Khumairah.” Seru dari salah seorang
siswi dari bangku pojok disalah satu sudut ruangan kelas. “Alaikumsalam” jawab
Khumairah tak lupa sertakan senyum nya, teman ini membalas dengan senyum
bersahabat. Terlihat dari wajah ramah dan santun, juga mengenakan kerudung
seperti dirinya, kulit sawo matang nya membuat nya terlihat lebih manis dengan
senyum itu. pikir Khumairah. Tanpa banyak tingkah Khumairah langsung
menghampiri dan menyalaminya. “Khumairah” kata nya. “Jannah, Raudhatul Jannah.
Panggil saja Jannah” kata sang gadis membalas jabat tangan Khumairah dan
langsung mempersilahkan nya duduk. Tak lama berselang, beberapa anak berlarian
masuk kelas ada yang sambil membawa serta gitarnya, ada yang sambil
mendengarkan ipod mini nya, melenggang masuk kelas dengan beberapa tarian kecil,
dan ada pula yang bercerita bersama beberapa teman nya, yeah pastinya itu para
gadis kalau bukan siapa lagi yang suka bergosip ria, apa lagi yang diceritakan
adalah actor-aktor korea yang tak dikenal nya. Melihat tingkah teman-teman
kelasnya ini Khumairah tertawa kecil, merasakan kelucuan namun juga aneh.
Mengapa mereka lebih memilih kegiatan itu dibandingkan membaca beberapa buku
pelajaran yang akan dimulai atau membaca Al-Quran misalnya? Itu lebih jauh
bermanfaat, batinnya. “hemm, itulah mereka” kata Jannah sambil melirik
Khumairah. Tak disangka ternyata teman semeja nya ini memperhatikan nya dan
mengetahui apa yang ia pikirkan. Hahaa.. Sambil tersenyum kecil Khumairah
mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas nya.
Sontak kelas hening seketika. Ternyata
kedatangan seorang guru sejarah membuat mereka diam seribu bahasa. Setelah
diperhatikan, ternyata guru ini berperawakan tegas. Dengan alis mata tebal kaku
menandakan bahwa beliau tak kenal kompromi. Muka dengan postur rahang sedikit
berbentuk petak terlihat seperti tak suka basa-basi. Badan tegap, tinggi dan
pundak lebar menambah kesan gentle pada dirinya. Sontak Khumairah terkejut
mendengar suara beliau yang lantang bukan kepalang saat membuka pelajaran. Pak
Agus, begitu anak-anak memanggilnya. Sepertinya aku harus berhati-hati dengan
beliau jika tak ingin berurusan dengan mata hitam nan tajam itu, batin
Khumairah dalam hati.
Pelajaran pertama selesai, lanjut
pelajaran kedua, Kimia. Kali ini yang masuk seorang wanita muda, usia sekitar
dua puluhan, 26 mungkin. Siswa pun terlihat sedikit santai saat ini. Beberapa
gurauan siswa lontarkan kepada sang guru. Sedikit kurang sopan bagiku, tapi
guru ini tak menghiraukan, malah sekali-sekali menjawab dan membalas gurauan
siswa tadi. Kini kelaspun menjadi agak ribut. Bertubuh mungil kecil sang guru
terlihat lucu. Senyum imut beliau juga membuat tegang nya pelajaran sebelumnya
sirna. Andai beliau berkerudung pasti bu guru terlihat lebih anggun, batinnya
lagi. “Beliau seorang budhist” gumam Jannah pelan, hingga hanya Khumairah saja
yang mendengarnya. Lagi-lagi ia membaca pikiranku, Khumairah membatin. Baru ia
sadari bahwa mata sipit sang guru disertakan kulit putih khas orang tionghoa
menegaskan ras dan asal muasal keluarganya.
Talent : Ulfa
Tragedi 1M
harap masukkan komentar
sebagai motivasi untuk saya
dan pembelajaran juga buat saya :)
Setengah
jam aku menunggu antrian, tapi nomor antrianku masih berjarak sembilan nomor
lagi. Seseorang dengan setelan jas silver rapi memasuki bank dan langsung
menuju ke sebuah ruangan. Langsung saja kukira ia adalah manager ataupun
staff executive bank ini. Namun lima
belas menit berselang si pria berjas pun keluar, kali ini bersamaan dengan
koper silver yang ditentengnya, senada dengan setelan jas nya. Saking focus nya
aku memperhatikan nya tak kusadari di sampingku telah duduk pria paruh baya
yang ikut mengantri. Ia menyapaku, memecah perhatianku. Kuperhatikan
tampilannya, tak ada yang istimewa. Hanya menggunakan baju kemeja putih kusam bergaris
vertical biru tua.
Pria ini selalu mengoceh. Tentang
pekerjaan nya, anak-anak nya, sesekali menanyakanku juga, mengajakku
bercakap-cakap, selang beberapa menit pria ini hendak ke toilet dan menitipkan
tas kain bercorak merah-biru tua, bentuk tas jinjing yang biasa digunakan
orang-orang mudik. Tibalah giliranku. Aku pun menuju teller. Hanya ada satu
teller disini. Kantor cabang bank yang kecil dengan fasilitas sepuluh bangku
tunggu dan satu mesin ATM, membuat antrian lambat berjalan. Ya, aku tinggal di
perkampungan kecil. Tak banyak masyarakat yang mengenal perbankan. Kecuali para
kariyawan kantor dan mahasiswa sepertiku yang menggunakannya untuk administrasi
akademik. Oke, kembali lagi ke ceritaku tadi. setelah kuselesaikan pembayaran
kulyah untuk semester depan, aku pun duduk kembali dibangku tunggu, tempat yang
sama saat aku mengantri. Bukan lagi hendak mengantri, melainkan menunggu
laki-laki yang menitipkan tas nya tdi kepadaku.
Aku heran dan bertanya-tanya, apa yang ia
lakukan, hingga dua jam lebih aku menunggu ia tak kunjung datang?. Kuurung kan
niatku untuk pulang dan meninggalkan tasnya. “Baik, akan ku tunggu 15 menit
lagi.”, gumamku dalam hati sambil melirik jam di dinding yang terletak di
belakang meja teller itu.
Kini 15 menit itu telah berlalu. Aku
melangkah ke pintu toilet hendak mengecek keberadaan laki-laki tadi, tak ada
siapa-siapa. Kesabaranku sudah habis. Kusambar tas nya lalu melangkah keluar.
Aku hendak melaporkan atau menyerahkan tas ini kekantor polisi sebagai barang
hilang. Kuraih sepedaku yang kuparkir tepat disebelah sepeda motor tua. “tas
besar dan berat ini, apa isinya sebenarnya?”. Saat aku meletakkannya kedalam
keranjang sepeda, ku intip sedikit. Terperanjat setengah mati aku dibuatnya !.
tas ini berisi uang pecahan seratus ribu, banyak, tak tau berapa lembar.
Kuperkirakan isi nya mencapai 1 Miliar. “Apa maksudnya, menitipkan tas yang
begitu berharga ini kepadaku dantanpa kembali?” pikiranku becabang-cabang saat
itu. Jantungku pun mulai gugup. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang terlintas
dibenakku. “Tak mungkin ia tak punya maksud tujuan meninggalkan tas ini
kepadaku.” Pikirku lagi. “Semoga tak terjadi apa-apa padaku nantinya.”
Tak ingin berlama-lama aku langsung
mengayuh sepeda tuaku sekencang-kencangnya. Makin kuatlah niatku untuk
melaporkan tas bermasalah ini kekantor polisi. Sesampi nya di sana aku tak ingin berlama-lama, langsung
ku ceritakan detail kejadian hingga selesai. Polisi berkata “Baiklah, serahkan
kasus ini kepada kami.” Aku pun pulang dengan segera, hati lega setelah
melaporkan tas itu.
Sayang
sungguh sayang, apa yang kutakutkan pun terjadi. Sepeda bututku tak mampu
melaju seperti kuda di film-film romawi itu. Aku dihadang oleh mobil ford hitam
buatan Amerika tahun 2010, perkiraanku. Mereka menculikku dan membawaku ke
hutan, tak bisa kuperkirakan tepat nya dimana. Mataku ditutup dengan kain
hitam, dan aku tak ingin melawan sekelompok orang berbadan besar dengan shot
gun di balik jas nya itu. Sengaja ku kibaskan tanganku saat ia hendak
mengikatku tadi semata-mata untuk memastikan ada tidaknya senjata itu.
Sesampainya di hutan mereka berucap-ucap yang kata-katanya tak bisa kupahami.
Logat kental Rusia, pikirku. Dan dengan bahasa yang sama mereka menanyaiku.
kujawab hanya “I don’t know”. Berkali-kali ditanya, kujawab juga dengan kalimat
“I don’t know!” Karna hanya kata itu
yang kutau. Setidak nya yang kutangkap dari film-film Hollywood.
Aku pun dihajar dengan puluhan kali
pukulan, beberapa diantaranya kurasakan hentakan kayu mendarat di beberapa
bagian tubuh, punggung, kaki, lengan dan terakhir perut. Terakhir ku dengar
suara ledakan menggelegar. Lalu tak mampu mendengar apa pun. Suara itu
membuatku tuli. Sakit luar biasa di pundak membuatku terasa hampir mati.
Kesadaran ku pun mulai hilang. Perlahan-lahan gelap gulita.
Saat sadar aku sudah berada di
rumah. Ibu meraung-raung. Menangisi keadaan ku. Dokter berkata “Dia harus
dibawa ke rumah sakit, penyakit nya ini lama-lama bisa membahayakan nya,
khayalan dan imajinasi nya sudah semakin parah. Ia bisa mati karenanya.” Lalu
kudengar ibu menjawab “Tapi ia bertingkah normal selama ini. Dan kulyah nya
lancar-lancar saja. Apa penyakit ini bisa diderita oleh orang yang bertingkah
normal, dok?” “bahkan profesor pintar sekalipun.” Ujar dokter sambil tersenyum.
“Ia bercerita adanya kasus kriminal, dengan uang sejumlah 1 miliar dalam tas yang
ia peroleh dari seorang laki-laki. Tapi tak ada saksi akan hal itu, dan di CCTV
bank tak ada seorangpun yang berdialog dengan nya, ia terlihat bercakap-cakap
sendiri. Dan di kantor polisi tak ada tas yang dimaksud, padahal ia mengatakan
telah meletakkan tas itu di samping meja si polisi, lalu pergi segera tanpa
sempat ditnyai si polisi. Tak ada saksi yang melihat ia pergi dengan mobil
sedan hitam. Ibu, tolong dengarkan saran saya dan segera bawa ia ke rumah sakit
dan coba konsultasikan ini ke dokter jiwa, dokter sofia, kenalan saya. Ia biasa
menangani kasus ini.” Jelas sang dokter panjang lebar kepada si ibu. “Ia bisa
menyiksa dirinya sendiri, bahkan kalau tidak ditangani segera ia bisa mati karena
nya.” Katanya lagi sambil membereskan peralatan medis yang digunakannya untuk
mengobati luka-luka paijo. Sebelum berlalu pergi ia berkata “ini schizophrenia.”
Dokter berlalu, sambil meninggalkan secarik kertas, seperti sebuah kartu nama.
Tertulis disana alamat seseorang yang bernama Sofia Risma. Isak tangis sang ibu
semakin bertambah.

